Rabu, 12 November 2008

Pidato Bung Karno Pada Rapat Raksasa di Medan (26-04-1962)

“Kita tidak mau berunding lagi dengan Belanda, kalau Belanda terus mengirim bala-bantuan ke Irian Barat.”
 
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.
MERDEKA!
Saya memang — Insya Allah Subhanahu Wata’ala — hendak mengucapkan pidato yang penting. Apa sebab saya katakan penting? Oleh karena apa yang saya ucapkan didalam waktu-waktu yang lampau, dan yang apa Insya Allah saya ucapkan sekarang ini adalah sebenarnya suara rakyat, suara rakyat dari Sabang sampai Merauke, suara Rakyat Indonesia yang berjumlah 96 juta orang. Saya tidak berbicara nonsens, saya berbicara atas nama rakyat Indonesia, saya berbicara sebagai penyambung-lidah Rakyat Indonesia. Tidaklah benar demikian, Saudara-saudara?

Apakah sebab jikalau saya berpidato, Rakyat berbondong- bondong sama datang? Lihat, pegawai-pegawai negeri hadir, Angkatan Bersenjata - baik Darat maupun Udara maupun Laut maupun Polisi - hadir, mahasiswa dan mahasiswi hadir sukarelawan hadir, kaum buruh hadir, kaum tani hadir, pendek-kata seluruh Rakyat dari pelbagai golongan dan pangkat hadir. Apa sebab demikian? Oleh karena sebenarnya yang hendak saya katakan atau yang telah saya katakan ialah suara mereka sendiri. Saya ulangi, saya tidak berbicara nonsens. Saya bicara, menggambarkan isi hati Rakyat Indonesia. Saya adalah - demikian saya katakan berulang-ulang — penyambung lidah daripada Rakyat Indonesia, bukan-kataku berulang-ulang pula — saya ini bangga bahwa saya ini disebutkan: Paduka Yang Mulia, atau Presiden, atau Panglima Tertinggi, atau Mandataris M.P.R.S. atau Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat, atau Panglima Besar Komando Tertinggi Urusan Ekonomi seluruh Indonesia, tidak. Saya berulang-ulang berkata, bahwa saya merasa berbahagia dan mengucap syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, bahwa saya adalah penyambung- lidah daripada Rakyat Indonesia.
Apa yang telah saya katakan dan apa yang akan saya katakan, adalah kehendakmu sendiri, adalah suaramu sendiri, adalah denyut hatimu sendiri. Ingatkah, hai Saudara-saudara sekalian, bahwa tatkala saya mengucapkan Trikomando Rakyat pada tanggal 19 Desember tahun yang lalu, saya berkata bahwa Trikomando Rakyat itu sebenarnya adalah Komando Rakyat kepada Rakyat sendiri, Komando yang diucapkan oleh Rakyat kepada dirinya sendiri.
Trikomando yang berarti bahwa kita harus membebaskan Irian Barat dengan selekas mungkin, supaya Irian Barat dalam tahun ini juga, masuk ke dalam wilayah kekuasaan Republik Indonesia.
Trikomando Rakyat saya ucapkan di Yogyakarta, apa sebab saya ucapkan di Yogyakarta? Oleh karena Yogyakarta adalah termashur sebagai Kota Revolusi, Oleh karena Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 diserbu oleh Belanda. Nah, tanggal 19 Desember pula saya ucapkan Trikomando Rakyat itu di Yogyakarta.
Apa sebab pidato penting sekarang ini saya ucapkan di Medan? Dan tidak di Jakarta? Oleh karena saya tahu, bahwa semangat Rakyat Medan termashur selalu berkobar-kobar menyala-nyala, semangat Jakartapun adalah semangat yang menyala-nyala, semangat Proklamasi. Di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 diucapkan Proklamasi Republik Indonesia yang melahirkan Republik Indonesia.
Tetapi, Saudara-saudara, sebenarnya bukan hanya Jakarta saja adalah kota semangat, bukan hanya Yogyakarta saja adalah kota semangat, bukan hanya Medan saja kota semangat, tetapi seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah gudang semangat yang menentang imperialisme itu. Jikalau umpamanya bukan seluruh Rakyat Indonesia semangatnya berkobar-kobar, menyala-nyala, apakah kita bisa mencapai kemerdekaan? Jikalau umpamanya 96 juta Rakyat kita ini tidak berkobar-kobar, menyala-nyala semangatnya, masakah kita bisa mempertahankan kemerdekaan kita, mempertahankan kemerdekaan kita walaupun kita digempur oleh musuh berulang- ulang kali, digempur oleh musuh pada tanggal 21 Juli 1947, digempur oleh musuh pada tanggal 19 Desember 1948, digempur oleh Westerling, digempur oleh APRA, digempur oleh gerombolan-gerombolan.
Kita tetap berdiri oleh karena semangat seluruh Rakyat adalah semangat perjuangan, semangat patriot, semangat yang telah berisikan sumpah: Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!
Saudara-saudara, Pak Subandrio tadi berkata, bahwa kita didalam Revolusi yang simultan, dan bahwa Revolusi itulah yang sekarang dirongrong oleh pihak lawan. Dijelaskan oleh Pak Subandrio,bahwa segala bagian-bagian daripada Revolusi itu adalah sekadar bagian saja daripada Revolusi besar yang dijalankan oleh seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke. Dan bukan saja Revolusi satu macam, kataku berulang-ulang pula, tetapi Revolusi simultan, Revolusi sekaligus bermacam-macam, Revolusi Sosial, Revolusi Ekonomi, Revolusi Nasional, Revolusi Politik, Revolusi Kebudayaan, bahkan saya tempo hari berkata, Revolusi membentuk manusia Indonesia baru.
Revolusi simultan, demikian diterangkan oleh Pak Bandrio, yang sekarang sedang dirongrong oleh musuh. Ini yang diikhtiarkan oleh musuh supaya gugur, jelas dikatakan oleh Pak Bandrio.
Apa sebab Belanda mempertahankan kolonialisme di Irian Barat? Padahal-kata Pak Bandrio-kepentingan-kepentingan Belanda disitu hanya kecil sekali. Ekonomis mereka sudah hampir bangkrut, militerpun sebenarnya tidak ada arti, pendek kata Belanda tidak mempunyai kepentingan besar di Irian Barat.
Tetapi, Saudara-saudara, bukan saja Belanda, tetapi seluruh dunia Imperialis menghendaki agar supaya Revolusi Indonesia ini gugur sama sekali. Tak dapat, kata mahasiswa dan mahasiswi.
Memang demikian, memang mereka tidak-akan dapat menggugurkan Revolusi Indonesia, memang mereka tidak dapat menghalang-halangi bahwa Revolusi Indonesia ini akan mencapai tujuannya.
Tempo hari pernah saya katakan, siapa yang bisa menahan bulan dan bintang, matahari beredar, dialah yang akan bisa menahan Revolusi Indonesia ini.
Dimana ada satu kekuatan duniawi dapat menahan jalannya bintang, bulan dan matahari? Tidak ada, Saudara-saudara.
Revolusi Indonesia adalah revolusi sejarah, adalah revolusi yang dilahirkan oleh sejarah dan oleh karena itu tak boleh tidak mesti berhasil, bahkan Revolusi Indonesia ini adalah sebagian saja daripada revolusi besar yang sekarang ini berjalan diseluruh dunia. Revolusi besar yang sebagai telah saya katakan berulang- ulang didalam berbagai pidato, meliputi tiga-perempat daripada seluruh ummat manusia, satu revolusi yang universil, satu revolusi yang menghendaki agar supaya ummat manusia ini hidup di dalam kebebasan, satu revolusi yang menghendaki agar supaya ummat manusia ini hidup dalam kebahagiaan, satu revolusi yang menghendaki agar supaya ummat manusia ini hidup dalam kebahagiaan, satu revolusi yang menghendaki agar supaya tiada satu tempatpun didunia ini berjalan hukum “exploitation de I’homme par I’homme” kataku, penindasan oleh manusia terhadap manusia. Seluruh ummat manusia yang progresif, Saudara-saudara, menghendaki dan sedang menjalankan revolusi yang demikian itu. Bukan saja Rakyat Indonesia, tidak, Rakyat- rakyat daripada Duta-duta Besar yang hadir disini, semuanya, Saudara-saudara, didalam batinnya atau didalam perbuatannya, sedang menjalankan revolusi yang demikian itu.
Maka oleh karena itu saya berkata, bahwa Revolusi Indonesia adalah sekadar satu bagian saja daripada revolusi mahabesar yang sedang dijalankan oleh tiga-perempat ummat manusia yang sekarang berjumlah hampir tiga ribu juta manusia, tiga perempat daripada itu, dus kira-kira 2500 juta manusia sedang didalam revolusi sama-sama dengan kita.
Maka oleh karena itu pula saya berkata, jangan kecil hati, Saudara-saudara sekalian, jangan kecil hati hai seluruh Rakyat Indonesia, kita tidak berjalan sendiri, kita tidak berdiri sendiri, kita adalah berjalan bersama-sama, serempak dengan 2500 juta ummat manusia. Dan - sebagai tadi telah saya katakan - hanya orang yang bisa menahan beredarnya bulan dan bintang dan matahari, karena itupun saya atas nama seluruh Rakyat Indonesia dengan tegas mengatakan, Insya Allah Subhanahu Wata’ ala, Irian Barat pasti akan masuk didalam wilayah kekuasaan Republik dalam tahun ini juga.
Malahan, Saudara-saudara, ucapan ini telah menjadi sumpah daripada Rakyat Indonesia, bukan sekadar baru keyakinan bahwa Irian Barat dalam tahun ini juga akan masuk kedalam wilayah kekuasaan kita,tidak! Bukan hanya keyakinan, tetapi sudah menjadi sumpah yang mesra. Semua Rakyat Indonesia sudah bersumpah demikian, Alhamdulillah, aku bersumpah demikian, engkau bersumpah demikian, engkau bersumpah demikian, engkau, hai para wanita bersumpah demikian, engkau, hai prajurit bersumpah demikian, engkau, hai perwira bersumpah demikian, engkau, hai pedagang yang duduk disitu, bersumpah demikian, engkau, hai sukarelawan bersumpah demikian, engkau, mahasiswa bersumpah demikian, engkau, mahasiswi bersumpah demikian, kita semuanya telah bersumpah demikian. Bersumpah, bahwa Irian Barat dalam tahun ini juga masuk didalam wilayah kekuasaan kita.
Maka dalam menjalankan sumpah ini, Saudara-saudara, Insya Allah Subhanahu Wata’ala, dalam menjalankan sumpah ini, kita melalui segala jalan, sudah pernah saya terangkan mengenai Trikora, Trikomando Rakyat, yang berisikan: Pertama, bahwa saya telah memerintahkan kepada seluruh Angkatan Perang Republik Indonesia untuk bersiap-siap setiap saat kalau saya beri komando membebaskan Irian Barat, mereka menjalankan pembebasan Irian Barat itu. Tetapi juga didalam Trikora saya katakan, gagalkan berdirinya “Negara Papua” di Irian Barat. Pancangkan Bendara Sang Merah Putih di Irian Barat. Siap-siagalah menerima mobilisasi umum yang akan meliputi seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Pokok daripada Trikora ini, sebagai tadi saya katakan, ialah Irian Barat harus bebas, Irian Barat harus dimerdekakan, Irian Barat harus dilepaskan daripada cengkeraman imperialisme, Irian Barat harus menjadi satu bagian faktuil, bagian yang nyata, daripada kekuasaan Republik Indonesia. Dan ini kita jalankan, Saudara-saudara, dengan segala jalan, sebab didalam Trikorapun tidak dikatakan bahwa kita menjalankan Trikora itu dengan hanya satu macam jalan saja, tidak.
Segala jalan harus kita jalankan, demikian sudah saya terangkan berulang-ulang. Ya, jalan diplomasi, tetapi juga, sebagai dikatakan Pak Bandrio tadi, kalau pihak Belanda menghendaki agar supaya Irian Barat dipertahankan oleh mereka dengan kekerasan senjata, kitapun tidak akan segan menggempur mereka dengan kekuatan senjata.
Malahan, Saudara-saudara, saya berulang-ulang berkata, bahwa Trikora harus dijalankan terus, malahan saya tegaskan, Trikora harus dipergiat. Saya katakan ini pada pidato Nuzulul- Qur’an yang lalu, saya katakan pada pidato Idul Fitri yang lalu. Trikora terus dijalankan, Saudara-saudara.
Kita dalam menjalankan diplomasi itu tadi tidak harus berhenti menjalankan Trikora, agar supaya benar-benar Insya Allah Subhanahu Wata’ala, Irian Barat masuk didalam wilayah kekuasaan Republik sebelum tanggal 31 Desember tahun ini. Segala jalan kita jalani, dan saya kemukakan disini dengan tegas, yang sudah saya katakan pula berulang-ulang, saya, Rakyat Indonesia, pemerintah Republik Indonesia, lebih senang bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik dengan jalan damai. Itu adalah satu hal yang masuk akal sama sekali. Masakan kita lebih senang bertempur jikalau bisa memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik tanpa pertumpahan darah, jikalau kita bisa memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik dengan cara baik- baik, dengan cara damai, dengan cara perundingan. Ini saya ucapkan sekali lagi sekarang ini, 26 April 1962, dikota Medan. Saya ucapkan sekali lagi bahwa kita lebih senang mendapat Irian Barat didalam wilayah kekuasaan Republik dengan jalan damai, tidak dengan jalan perang, tidak dengan jalan pertempuran, tidak dengan kekerasan senjata.
Ya, saya minta dicatat oleh semua Duta-duta Besar yang hadir disini. Saya minta dicatat, bahwa kita bangsa Indonesia, Sukarno Presiden Republik Indonesia, Mandataris M.P.R.S., Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat, mengutamakan jalan damai daripada jalan kekuasaan senjata. Saya minta dicatat, dan minta diteruskan kepada pemerintah- pemerintah mereka yang diwakili oleh mereka disini ini, supaya dimengerti benar-benar, that we are peaceful people, artinya, bahwa kita ini Rakyat yang damai, that we are peace loving people, bahwa kita ini adalah Rakyat yang cinta damai.
Tetapi juga berulang-ulang saya katakan, kita cinta kepada perdamaian, tetapi lebih cinta lagi kepada kemerdekaan. Inipun minta dicatat, Saudara-saudara. Kita lebih cinta kepada kemerdekaan. Maka oleh karena itu, Saudara-saudara, untuk membebaskan Irian Barat, kalau bisa dengan jalan damai, kataku berulang-ulang, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Tuhan Maha Besar. Memberikan kembali Irian Barat kepada Republik Indonesia dengan jalan damai, dengan jalan baik-baik dari pihak Belanda, dengan jalan kesadaran pihak Belanda, bahwa mereka toh tidak bisa meneruskan mereka punya perjuangan mempertahankan Irian Barat dengan kekuatan senjata, pendeknya dengan jalan tanpa pertumpahan darah, jikalau Irian Barat masuk kembali didalam wilayah kekuasaan Republik dengan cara yang demikian itu, kataku berulang-ulang. Syukur Alhamdulillah, Allahu Akbar, kataku. Aku berterima kasih atas nama seluruh Rakyat Indonesia. Tetapi, kataku tadi pula, dan tadi pun sudah dikatakan oleh Pak Subandrio, jikalau Belanda ngengkel, jikalau Belanda bersitegang urat leher, jikalau Belanda tetap berkepala batu, jikalau Belanda tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada kita kembali dengan cara yang baik-baik, apa boleh buat, saya ulangi lagi buat kesekian kalinya, apa boleh buat, maka kita akan bebaskan Irian Barat dengan kekuatan senjata.
Nah itulah, engkau hai sukarelawan berdiri disitu, engkau daripada Angkatan Perang berdiri disini, engkau daripada kepolisian Negara berdiri disini, engkau daripada semua perwira- perwira berdiri disini, semuanya sudah seia sekata, yah, kalau Belanda tidak mau menyerahkan kembali Irian Barat dengan cara baik-baik, kita, kita, kita, ya daripada sukarelawan, ya daripada polisi, ya daripada prajurit-prajurit, ya, daripada perwira-perwira, kita sekalian siap-sedia untuk membebaskan Irian Barat dengan pertempuran yang sehebat-hebatnya. Dan inipun, inipun harus dimengerti tegas-tegas oleh semua pemerintah didunia ini. Inilah tekad Rakyat Indonesia, bukan sekadar tekad Sukarno, ya Sukarno Panglima Tertinggi daripada Angkatan Perang, ya, Sukarno Pemimpin Besar Revolusi, Ya, Sukarno Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat. Tetapi ini, politik yang demikian ini, tekad yang demikian ini, bukan sekadar tekad dan pimpinan Sukano, tidak. Sebagai tadi saya katakan, tidakkah segenap Rakyat menghendaki demikian?
Saudara-saudara sekalian, saya ulangi mengutamakan jalan damai, manakala jalan damai itu masih ada, minta dicatat, selama jalan damai itu masih ada, kita akan sudi memasuki jalan damai itu. Inipun harus ditegaskan kepada pemerintah-pemerintah asing. Manakala jalan jalan damai itu masih ada, manakala masih ada lobang kecil, ya lobang kecil, engkau memasukinya secara damai dan mencapai pembebasan Irian Barat, lobang kecil itu akan kita masuki. Ya, Saudara-saudara, tempohari sudah saya terangkan, bahwa usul Tuan Bunker pada prinsipnya kita terima, artinya bahwa kita mau merundingkan pembebasan Irian Barat itu dengan pihak Belanda atas dasar prinsip-prinsip yang dikemukakan oleh Tuan Bunker itu, pada dasarnya, pada prinsipnya.
Itu jelas saya katakan di Palembang, jelas saya katakan di Jambi tempo hari pula, pada dasarnya, pada prinsipnya, malah di Palembang saya gambarkan sebagai memberi saputangan. Kalau misalnya saya Belanda, umpama, saputangan ini adalah Irian Barat, ini saputangan dipegang oleh saya sebagai Belanda, saputangan ini sebenarnya milik daripada Panglima Lubis, itu Republik Indonesia Saya tidak keberatan jikalau Belanda, karena malu, memberikan saputangan ini kepada Panglima Lubis, yaitu saya umpamanya malu memberikan saputangan ini kepada Panglima Lubis, meminjam tangannya Gubenur Raja Junjungan. Tulung kasihkan saputangan ini kepada Panglima Lubis, untuk Belanda minta tangan orang lain untuk memberikan Irian Barat, saputangan ini kepada Republik Indonesia.
Saya tidak berkeberatan hal yang demikian itu, tidak ada keberatan, malah kami berkata, kami dapat menerima pada prinsipnya usul Bunker. Oleh karena itu maka kami berkata, bahwa kami tidak berkeberatan pada prinsipnya menerima usul Bunker. Sebab prinsipnya usul Bunker adalah demikian: Mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan kita via tangan orang lain, yaitu tangannya PBB. OK, all right. Kita mau dengan jalan yang demikian, prinsip yang demikian itu kita mau, tetapi lha ini: kita tidak mau penyerahan Irian Barat kepada kita itu diulur-ulur sampai 2 tahun.
Kita telah tegas berkata, bahkan telah bersumpah kepada diri sendiri, memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik dalam tahun enam puluh dua ini. Ya, Saudara-saudara, kita telah menyatakan, setuju menerima dalam prinsip usul Bunker. Tunggu punya tunggu, tunggu punya tunggu, Belanda tidak muncul-muncul dengan pernyataan mau menerima usul Bunker ini.
Sampai pada saat sekarang ini sebenarnya, Saudara- saudara, tidak ada dari pihak Belanda satu pernyataan mau menerima usul Bunker atau menerima dalam prinsip usul Bunker. Kok kita ini disuruh tunggu, tunggu, tunggu, tunggu……… tunggu…………… tapi saya lihat, waah……… berbahaya ini…….. Kita disuruh tunggu…….. tunggu……… tunggu dalam pada itu Belanda kirim bala bantuan marinir-marinir ke Irian Barat. Kirim serdadu-serdadu ke Irian Barat, kirim marinir-marinir yaitu KKO- KKO mereka ke Irian Barat. Kirim kapal-kapal perusak ke Irian Barat. Kirim kapal-kapal selam ke Irian Barat. Bahkan telah mengatakan dengan jelas, akan mengirim kapal Karel Doorman ke Irian Barat. Dikatakan dengan tegas dan jelas, Karel Doorman sekarang ini sedang diperbaiki di Den Helder, akan diperlengkapi dengan kapal-kapal penempur Jet yang hebat- hebat, kemudian akan dikirim ke Irian Barat.
Saya bertanya kepadamu: He, Saudara-saudara sekalian, apakah ini tidak suatu keadaan yang berbahaya bagi kita? Apakah ini tidak berarti bahwa sebenarnya pihak Belanda bersedia-sedia untuk mengadakan perang dengan Republik Indonesia?
Yah, memang demikian. Dan kita disuruh menunggu- nunggu, kita disuruh menunggu-nunggu, kita disuruh menunggu-nunggu.
Kita telah berkata, bahwa kita mau masuk kedalam perundingan atas dasar prinsip Bunker. Tetapi pihak Belanda sampai sekarang belum ada pemyataan yang demikian itu, sebaliknya mengirimkan bala bantuan ke Irian Barat.
Nah, maka dalam keadaan yang demikian itu, saya ulangi, dalam keadaan yang demikian itu, sekali lagi saya katakan, dalam keadaan yang demikian itu -artinya Belanda mengirimkan bala bantuan, Belanda mengirimkan segala alat-alat peperangan ke Irian Barat, Belanda bahkan akan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat- dalam keadaan yang demikian itu kita tidak mau berunding dengan pihak Belanda.
Dan inilah ucapan saya yang penting, yang Saudara tunggu-tunggu. Saya disini dengan resmi mengatakan, Saudara- saudara, dalam keadaan yang demikian itu -Belanda mengirim bala bantuan terus menerus ke Irian Barat, bahkan Belanda akan mengirim Karel Doorman ke Irian Barat- dalam keadaan yang demikian itu kita tidak mau mengadakan perundingan dengan pihak Belanda. Pergiatlah terus Trikora sehebat-hebatnya!!!
Dan lain perkara, jikalau Belanda tidak mengirim bala bantuan ke Irian Barat, -itu supaya dicatat pula oleh Duta-duta besar disini,- kalau pihak Belanda tidak mengirimkan bala bantuan ke Irian Barat, kita dari pihak Indonesia tetap pada pendirian kita semula, yaitu mau berunding dengan pihak Belanda untuk memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik.
Jadi sebenarnya, Saudara-saudara, pintu perundingan kita tidak tutup sama sekali. Tidak, we are not closing the door, we are keeping the door still open. Jelas ini bahasa Inggris, juga dulu di Jakarta saya berkata, dear is geen woord Frans bij, artinya tidak ada perkataan Prancis didalamnya. Yes, there is no French in it, only English. I do not know good English or not good English, it is English. I say, we are still keeping the door open for negotiation.
Tapi ini, pada tingkatan yang pertama atas prinsip usul Bunker atas cara menyerahkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, itupun telah berulang-ulang saya katakan bahwa kita mau berunding, tapi perundingan atas dasar-dasar itu. Pendek, kita mau berunding secara formil dengan pihak Belanda, tetapi kita tidak mau merundingkan lain-lain hal kecuali cara menyerahkan kekuasaan Irian Barat kepada Republik Indonesia. Itu tetap kita pegang teguh. Kita pegang teguh pernyataan yang telah kita ucapkan beberapa bulan yang lalu, bahwa kita hanya mau berunding dengan pihak Belanda, berunding formil dengan pihak Belanda atas dasar penyerahan kekuasaan Irian Barat kepada Republik Indonesia.
Tetap itu kita pegang teguh, tetapi mengenai usul-usul Bunker, Saudara-saudara, yang pada prinsipnya telah kita terima, saya sekarang dalam pidato yang penting ini berkata, bahwa kita masih mau mengadakan perundingan preleminary, perundingan pendahuluan, sekali lagi perundingan pendahuluan atas prinsip usul-usul Bunker itu, asal Belanda mau menerima prinsip usul- usul Bunker. Kalau Belanda tidak mau mengatakan, bahwa dia adalah dalam prinsipnya menerima usul-usul Bunker, kitapun tidak bisa berunding dengan pihak Belanda itu.
Pantaskah kita berunding untuk membicarakan segala tetek- bengek, yang tidak ter zake doende, membicarakan tetek-bengek, yang tidak menyangkut penyerahan kekuasaan di Irian Barat kepada Republik Indonesia? Tidak, kita tidak mau!
Tetapi kita tegaskan, sekali lagi saya tegaskan selama pihak Belanda masih demikian, artinya mengirimkan bala bantuan ke Irian Barat, bahkan mengirimkan Karel Doorman ke Irian Barat, sekarang juga saya katakan bahwa kita tidak mau berunding dengan pihak Belanda. Tidak mau berunding meskipun perundingan informil, Saudara-saudara.
Tetapi kita masih tetap mau berunding oleh karena kita adalah satu bangsa yang cinta kepada perdamaian, tetapi lebih cinta kepada kemerdekaan.
Ini artinya apa Saudara-saudara? Artinya ialah, hai, Rakyat Indonesia, sekarang ini benar-benar kita memasuki satu fase yang menentukan dalam perjuangan kita memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik. Aku pemimpin besarmu, aku kepada Negaramu, aku Panglima Tertinggimu, aku Panglima Besarmu Pembebasan Irian Barat, aku tidak bisa mengetahui apakah Belanda mau menyetop bala bantuannya ke Irian Barat, apakah Belanda mau menyerahkan Irian Barat kepada kita? Apakah Belanda mau menerima prinsip usul-usul Bunker, apakah Belanda mau mengadakan perundingan dengan kita sebagai jaminan atas penyerahan kekuasaan di Irian Barat kepada kita? Saya tidak tahu hal ini, Saudara-saudara. Tetapi saya katakan kepada Rakyat Indonesia justru oleh karena itu- marilah kita sekarang ini menggigitkan kita punya gigi sekeras-kerasnya. Kata orang Belanda: “Onze tanden op elkaar klemmen”. Gigitkan kita punya gigi sekeras-kerasnya. Artinya ayo berjalan terus, berjalan terus menjalankan Trikora, berjalan terus membebaskan Irian Barat sebelum matahari terbit pada tanggal 1 Januari 1963.
Memang Saudara-saudara, revolusi kita kini sebagai tadi dikatakan oleh Pak Subandrio, sedang memuncak, yah sekarang kita menanti tingkat puncaknya dari revolusi Indonesia itu, Revolusi Indonesia bagian politik untuk memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik kembali. Sekarang kita memasuki masa yang demikian itu. Maka sebagai suatu bangsa yang revolusioner, Saudara-saudara, sebagai tadi saya katakan, yah, sejak daripada saat sekarang ini, kita sebenarnya tidak boleh mengharap banyak, mengharap sangat. Pengharapan- pengharapan yang mungkin membawa kita menjadi satu bangsa yang mau -kata orang Belanda-: zelgenoergzaam. Bangsa yang hanya ……… yaaah…….. nanti toh beres…….. nanti toh Irian Barat akan masuk kedalam wilayah kekuasaan Republik, bukan satu bangsa yang yakin dan tegas mengetahui, bahwa masuknya Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik hanyalah mungkin dengan perjoangan yang maha hebat, satu perjoangan yang total, satu perjoangan yang dijalankan oleh Rakyat dari Sabang sampai ke Merauke disegala bidang.
Mari sejak sekarang ini, Saudara-saudara, kita singsingkan lengan baju lebih dari yang sudah-sudah. Mari sejak dari sekarang ini, kita anggap bahwa Republik Indonesia ini sudah benar-benar masuk dalam fase perjuangan yang memuncak. Bahwa kita sekarang ini benar-benar dalam melaksanakan sumpah kita, memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik, dalam tahun ini juga. Tetapi Saudara- saudara, dalam hal demikian itu hanyalah kita bisa jaya jikalau, — sebagai tadi saya katakan, kita bersatu padu dalam segala lapangan, baik Angkatan Perang maupun angkatan bersenjata seluruhnya, maupun kaum buruh, kaum tani, maupun siapa saja, seluruh rakyat Indonesia, yang sembilan puluh enam juta ini, laksana tergembleng menjadi satu jiwa, satu tenaga, satu jiwa yang tidak mundur meskipun ada halangan yang bagaimanapun juga.
Saudara-saudara, saya kira cukup jelas saya punya pidato yang demikian itu dan saya minta agar supaya pidato saya ini disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia dengan surat-kabar, dengan radio dengan mulut dan dengan apapun, yaitu amanat saya kepada rakyat Indonesia, bahwa kita sekarang ini benar- benar memasuki fase perjuangan yang sehebat-hebatnya.
Dalam pada itu, Saudara-saudara, saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, sebagai Kepala Negara, Sebagai Panglima Besar Pembebasan Irian Barat, yah, saya masih menunggu, — artinya menunggu itu — yah, mengharap Saudara-saudara, agar supaya Belanda, pihak Belanda lekas sadar, mau menyerahkan Irian Barat kepada kita dengan jalan yang sebaik-baiknya.
Sekian, Saudara-saudara, amanat saya, karena saya nanti jam sebelas harus meletakkan batu pertama dari pada Manipol-House, gedung Manipol, maka terpaksa saya sudahi pidato saya ini.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Pidato Bung Kaeno Pada Kongres VI PKI (16-09-1959)

Yo sanak yo kadang,

malah yèn mati aku sing kélangan


Saudara-saudara sekalian,

Merdeka !
(sambutan gemuruh ” Merdeka ! “, tepuk tangan lama).

Saudara-saudara sekalian,

Pada permulaan bulan Juli yang lalu, sdr. Aidit di ruangan Istana Negara menanya kepada saya : –” Bung Karno, sekarang ini sedang berjalan pelarangan kegiatan politik. Apakah kiranya Partai Komunis Indonesia dalam waktu yang singkat boleh mengadakan Kongres di Jakarta ? “

Pada waktu itu saya berkata kepada saudara Aidit : –”Adakan kongres itu” (tepuk tangan dan sorak lama, terdengar pekik : “Hidup Bung Karno !”). -”Adakan Kongres itu lewat tanggal 1 Agustus yang akan datang”. Dan didalam pada akhir bulan Juli sebelum tanggal 1 Agustus, pada satu pagi saya memanggil KMKB Jakarta Raya, Overste Umar, minum kopi dengan saya pagi-pagi (tawa). Dan saya berkata kepada Overste Umar :–” Overste Umar, nanti lewat tanggal 1 Agustus Partai Komunis Indonesia akan mengadakan Kongres, jagalah agar supaya Kongres itu berjalan baik, sebab Republik Indonesia adalah Republik Demokrasi. (tepuk tangan lama).

Saudara-saudara, maka sekarang telah terang langsunglah Kongres itu. Dan sedianya saya, diminta oleh sdr. Aidit untuk menghadiri salah satu sidang resepsi daripada Kongres ini pada tanggal 15 September atau sebelum 15 September. Tapi pada waktu itu saya berkata kepada sdr. Aidit : –Sayang, maaf, sebelum tanggal 15 September tak mungkin saya dapat menghadiri suatu resepasi oleh karena saya hendak mengadakan perjalanan ke Aceh, ke Riau, ke Kalimantan, tetapi insya Allah, lewat 15 September saya akan dapat menghadiri resepsi penutupan daripada Kongres PKI “. Dan oleh sdr ; Aidit dijadikan resepsi penutupan Kongres itu terjadi pada tanggal 16 September. Dan, saudara-saudara, syukur alhamdulmlilah pada ini malam saya hadir dikalangan saudara-saudara. (tepuk tangan). Hadir dikalangan saudara-saudara, diterima oleh saudara-saudara dengan rasa kawan, dengan rasa cinta, yang atasnya saya mengiucapkan banyak-banyak terimakasih. Diterima oleh saudara-saudara didalam ruangan, yang … saya kira ini orang-orang Komunis yang membuat ruangan yang lebih indah, (tepuk tangan lama) dengan ruangan yang indah dengan hiasan-hiasan yang indah dan dinamis.

Maka teringatlah kepada saya salah satu Kongres PKI … hampir 40 tahun yang lalu, yaitu di Bandung kira-kira tahun 1922 atau 23. Saya tidak ingat lagi Kongres PKI yang nomor berapa, tapi yang jauh daripada yang indah ini. Pada waktu itu Kongres diadakan disatu sekolah, namanya sekolah partikulir di jalan Pungkur, Bandung. Sangat sederhana. Jumlah Kongresis jauh lebih kurang daripada yang sekarang dan saya ingat dibagian pimpinan, yang pada waktu itu dinamakan ” Hoofdbestuur ” ada berderet 15 kursi tetapi 9 daripada kursi itu kosong oleh karena mereka yang harus duduk di situ meringkuk didalam penjara. Kongres itu, dus, hanya dipimpin oleh 6 orang pemimpin saja. Jauh perbedaan dengan keadaan yang sekarang yang kita melihat sdr. Aidit gagah perwira, (tepuk tangan lama) sdr.Lukman, sdr. Nyoto, sdr.Sudisman, sdr.Sakirman, disampingnya ada kandidat Politbiro sdr.Nyono, dan kita melihat disana ada dua orang wanita, disana satu orang wanita, dan disana lagi dua orang wanita, berbedaan dengan keadaan hampir 40 tahun yang lalu itu, saudara-saudara. Dan pada waktu itu saya duduk nonton ikutserta dalam Kongres di Bandung itu yang setengah sebagai ” penyelundup “, pemuda. (tawa dan tepuk tangan). Berbeda dengan sekarang yang saya hadir didalam Kongres ini sebagai Presiden Republik Indonesia. (tepuk tangan lama). Ya, saudara-saudara, barangkali sayalah satu-satunya presiden suatu negara di dunia ini, negara yang bukan dinamakan Sosialis, yang menghadiri satu Kongres Partai Komunis (tepuktangan lama). Nah betapa tidak saudara-saudara ! Betapa tidak hendak saya hadiri, kan saudara-saudara orang Indonesia, warganegara Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia, pejuang-pejuang menentang imperialisme yang membela kemerdekaaan Indonesia ini. (tepuktangan gemuruh). Saudara-saudara adalah utusan daripaka sebagian Rakyat Indonesia, saudara-saudara adalah sama-sama orang-orang bangsa Indonesia. Malah saya akan berkata dalam bahasa Jawa, saudara-saudara itu, –” yo kadang, yo sanak, malah yen mati aku sing kélangan ” (tepuktangan gemuruh lama).

Yah, saudara-saudara, demikianlah keadaannya maka oleh karena itupun saya merasa bergembira sekali tatkala saya hendak datang di ruangan gedung ini, dari muka Istana mula telah melewati barisan, barangkali pemuda-pemuda komunis, (tepuktangan) semua menyerukan satu yel : ” Gotong-royong, gotong-royong .. Ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, gotong-royong .. Ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris, ho lopis kuntul baris … (semua hadirin bersama-sama menyerukan ” Ho lopis kuntul baris “). Saya amat gembira oleh karena, ya memang saudara-saudara jikalau kita hendak menyelesaikan revolusi nasional kita ini, tidak ada jalan lain melainkan gotong-royong dan ho lopis kuntul baris.(tepuktangan).

Dibelakang ada ditulis, ” Kongres Nasional ke-VI PKI Untuk Demokrasi dan Kabinet Gotong-Royong “. (tepuktanggan). Saya dengan tegas berkata kepada saudara-saudara, Kabinet Gotong-Royong tetap menjadi cita-cita Bung Karno! (tepuktangan lama). Sebab sebagai tadi saya katakan, menyelesaikan revolusi nasional kita, apalagi revolusi kita setelah memasuki fase sosial-ekonominya untuk menyelenggarakan masyarakat adil dan makmur sebagai amanat penderitaan Rakyat, tidak ada jalan lain melainkan dengan gotong-royong dan ho lopis kuntul baris. Maka oleh karena itu, saudara-saudara saya tadi berkata, tetap saja bercita-cita Kabiner Gotong Royong dan disamping itu, saudara-dsaudara melihat bahwa saya telah membentuk Dewan Pertimbangan Agung atas dasar gotong-royong dan insya Allah s.w.a., akan membentuk MPR - Majelis Permusyawaratan Rakyat atasdasar gotong-royong pula. (tepuktangan lama).

Saya bergembira terhadap PKI terutama sekali diwaktu yang akhir-akhir ini, — dan kata ” akhir-akhir ini ” –bukan hanya beberapa hari tapi telah beberapa tahun — PKI dengan tegas menyatakan mutlak perlunya persatuan nasional sebagaimana tadi diutarakan buat kesekian kalinya lagi oleh sdr. D.N. Aidit. Cocok benar dengan yang saya katakan, masih di jaman Jokyapun, kemudian beberapa kali saya ulangi di Jakarta ini, bahwa meskipun sepanjang sejarah selalu ada perjuangan klas, selalu ada pertentangan klas, vide Manifesto Komunis, jadi pertentangan klas, perjuangan klas itu selalu ada tetapi didalam sesuatu revolusi nasional maka kita tidak meruncing-runcingkan pertentangan klas dan perjuangan klas diantara bangsa sendiri (tepuktangan). Sebaliknya, sebaliknya kita semua menggalang persatuan revolusioner, semua tenaga revolusioner menjadi satu gelombang maha sakti yang menghantam remuk redam terhadap kepada musuh kita yang utama, yaitu imperialisme-politik dan imperialisme-ekonomi (tepuktangan lama). Saudara-saudara, hal ini saya ucapkan dengan jelas didalam Manifesto Politik saya pada tanggal 17 Agustus 1959 yang lalu. Dan tatkala saya mengadakan perjalanana beberapa hari yang lalu ke Aceh, diikuti oleh beberapa dutabesar Polandia yang duduk disana pakai dasi merah, dutabesar Uni-Sovyet yang duduk disana dengan dasi kupu-kupu, dutabesar India yang duduk disana dengan dasi putih kalau tidak salah, dan dutabesar-dutabesar lain, dengan gembira saya melihat bahwa dimana-mana tempat, baik daerah Aceh maupun daerah Riau, maupun di daerah Kalimantan, PKI-lah salahsatu tenaga yang menyambut dengan baik (tepuktangan lama), menyambut dengan baik dan konsekwen kembali kita kepada Undang-Undang Dasar 45, dan menyambut dengan baik Persatuan nasional, menyelenggarakan persatuan nasional itu dengan sehebat-hebatnya (tepuktangan gemuruh). Oleh karena itu saudara-saudara, pantas saya mengucapkan penghargaan saya kepada Partai Komunis Indonesia didalam hal ini.

Di Kutaraja, tatkala saya membuka Fakultas Ekonomi, Fakultas Ekonomi yang terdiri dari usaha gotong-royong daripada Rakyat Aceh, dan saya melihat dutabesar-dutabesar dari negara-negara asing yang mengikuti perjalanan saya itu, antara lain dutabesar India, saya mensitir ucapan daripada pemimpin India, Sri Yawaharlal Nehru. Sri Yawaharlal Nehru, kata saya pada waktu itu, jumlah total jendral pernah masuk penjara 11 kali, ada yang lama ada yang sebentar. Sebelas kali beliau masuk-keluar penjara, masuk-keluar, masuk-keluar, masuk-keluar .., sehingga pada satu ketika beliau berkata merasa dirinya itu sebagai satu ” shuttle-cock ” didalam permainan badminton. In, out, in, out, .. in, out penjara. Beliau berkata : ” What a shuttle-cock I have become “. ” Saya ini kok menjadi shuttle-cock begini ? “. Tatkala saya ingat akan ucapan Sri Yawaharlal Nehru itu, saya ingat pada diri saya sendiri. Nehru merasa dirinya sebagai ” shuttle-cock “, lha saya ini merasa diri saya sebagai apa ? Saya berkata dihadapan khalayak ramai di Kutaraja itu, saya merasa diri saya sebagai sepotong kayu dalam satu gundukan kayu api-unggun, sepotong dari ratusan atau ribuan potong kayu didalam api unggun besar yang sedang menyala-nyala. Saya menyumbang sedikit kepada nyalanya api unggun itu, tetapi sebaliknyapun saya dimakan oleh api-unggun itu, saudara-saudara. Menyumbang kepada api-unggun, tetapi juga dimakan oleh api-ungggun. Tidakkah sebenarnya kita semua berasa demikian saudara-saudara ?

Saudara-saudara, terutama sekali hai saudara saudara dari PKI, saudara-saudara masing-masing menyumbang kepada api revolusi, tetapi saudarapun dimakan oleh api revolusi itu. Dimakan dalam arti bahwa saudara ikut serta dalam dinamikanya revolusi ini habis- habisan, bahwa saudara merasa diri saudara mendapat impetus, mendapat kekuatan tenaga, mendapat penggerak jiwa daripada revolusi yang apinya sekarang sedang berkobar-kobar dan menyala-nyala itu. Kita semuanya harus merasa demikinan tanpa kecuali, baik sau dara Asmara Hadi yang duduk disitu, maupun Overste Umar yang duduk disana, maupun Zus Ruslan Abdulgani yang duduk disana, maupun sdr. Suwiryo yang duduk disana, maupun sdr Sudiro yang duduk disana, maupun Pak Aruji Kartasasmita yang duduk disini, maupun sdr Sukarni yang duduk disitu, maupun sdr Ruslan Abndulgani yang duduk disitu, maupun saudara Aidit yang duduk disitu, maupun saya sendiri yang berdiri dimuka mikrofon ini, harus merasa diri kita ini sebagai penyumbang kepada revolusi dan dimakan oleh api-revolusi. Hanya dengan jalan demikianlah saudara-saudara maka impetus menyelesaikan revolusi nasional dengan cara ho lopis kuntul baris dan gotong royong dapat terlaksana Jangan diantara kita itu ada yang merasa diri kita sebagai … hanya pemberi, penyumbang kepada revolusi saja jangan diantarara kita itu ada yang merasa sebagai almarhum maharaja diraja Hamurabi yang berkata : –” Aku titisan daripada Aburamasda, aku telah membuat air sungai mengalir di ladang-ladang dan memberi kesuburan kepada ladang-ladang “. Sewaktu air sungai pergi ke ladang dan memberi kesuburan ke ladang-ladang itu dianggapnya sebagai perbuatannya sendiri, menurut titahnya sendiri. Tidak boleh kita meskipun kita menjadi pemimpin besar bagaimanapun saudara-saudara, mempunyai rasa yang demikian itu Tetapi kita semua harus merasa diri kita satu bagian daripada satu massa yang besar, bangsa Indonesia yang 88 juta jumlahnya bahkan sebagian daripada umat manusia didunia ini. Menyumbang kepada revolusi, bukan saja revolusi nasional, tapi juga revolusi besar didunia ini, tetapi sebaliknyapiun dimakan oleh revolusi itu.

Ya, sebagai yang saya katakan didalam pidato saya 17 Agustus 59, kita sekarang ini mengalami revolusi yang besar sekali, bukan saja di Indonesia, tetapi juga diluar Indonesia. Saya berkata bahwa ¾ daripada umat manusia ini sekarang didalam revolusi. Revolusi umat manusia untuk mengejar kemerdekaan. Revolusi umat manusia yang dijalankan oleh lebih daripada 2000 juta manusia mengejar kebebasan, mengejar persaudaraan dunia, mengejar hidup yang wajar, mengejar masyarakat adil dan makmur dan lain sebagainya. Kita sebagai bagian daripada revolusi besar itu saudara-saudara, mempunyai tugas menyelesaikan revolusi di bumi Indonesia menurut kepribadian Indonesia sendiri.

Saudara-saudara, tadi sdr. Aidit habis-habisan memuji pada saya. Sebentar-sebentar Bung Karno, Bung Karno, Bung Karno. Lho, sdr. Aidit jangan lupa, saya ini hanya satu bagian daripada gelombang besar ini. Saya bukan Hamurabi yang berkata : –” Saya adalah titisan daripada Aburamasda “, saya bukan pembuat revolusi ini. Tidak ! Saya hanya sekedar bagian daripada revolusi ini, saya sekedar satu potong kayu didalam api-unggun yang besar ini dan saya dimakan malahan oleh nyalanya api-unggun itu (tepuk tangan)

Saudara-saudara, nah, yang berdiri dihadapan saudara-saudara ini memang satu manusia yang dipandang beberapa manusia adalah aneh. Saya sendiri telah mengakui, saya ini ” campuran “, saudara-saudara, campuran dari 3 sifat, ya nasionalis, ya sosialis, ya muslimin. Tiga sifat ini tercampur dalam diri saya. Malahan saudara-saudara, ada yang heran, bagaimana bisa saudara Sukarno ini muslimin padahal beliau berkata, pernah berkata, bahwa beliau adalah seorang historis materialis ? Yah, saudara-saudara, buat sekian kalinya saya ulangi : Saya memang seorang historis materialis. Lha kok bisa saya menjadi orang muslimin ? Yang percaya kepada Tuhan ? Yang sembahyang ? Yang berpuasa ? Dan lain-lain sebagainya.

Saudara-saudara, saya adalah seorang historis materialis, tetapi saya bukan seorang wijsgerig materialis, bukan seorang filosofis materialis. Saya terangkan kepada Saudara-saudara bedanya. Seorang filosofis materialis atau wijsgerig materialis berkata, fikiran itu adalah keluar daripada proses otak. Kalau tidak ada otak, tidak ada fikiran. Maka seorang wijsgerig materialis berkata : “gedachte is phosphor”. Fikiran itu adalah phosphor. Oleh karena otak terbuat sebagian besar daripada phosphor, maka dia berkata “fikiran adalah phosphor”, “gedachte is phosphor”. Ada juga dia berkata, “rasa adalah jantung”, oleh karena tanpa jantung tiada rasa. Dicari terus .. roch, jiwa, sebenarnya tidak ada sebab yang dinamakan roch dan jiwa itu adalah badan sebagaimana gedachte adalah phosphor, rasa adalah jantung, jiwa atau roch adalah badan, molekul. Dan saya bukan yang demikian itu saudara-saudara. Saya bukan filosofis materialis, –terus terang saja supaya kita mengenal satu sama lain ! (tepuktangan). Saya bukan wijsgerig materialis. Tidak ! Saya adalah seorang historis materialis ! Historis materialis adalah satu ilmu, satu metode untuk mengerti sejarah. Satu metode analisa sejarah yang mengatakan bahwa segenap alam-alam fikiran, ideologi dan lain sebagainya didalam periode daripada sejarah ditentukan oleh perbandingan-perbandingan sosial-ekonomi pada waktu itu. Sosial-ekonominya pada waktu itu demikian, ideologinya demikian, sosial-ekonominya pada satu waktu hijau, ideologinya hijau, sosial-ekonominya pada satu waktu hitam, ideologinya hitam, sosial-ekonominya pada satu waktu merah, ideologinya merah. Ini adalah ilmu yang dinamakan historis materialisme dan saya termasuk pengikut daripada teori ini, maka oleh karena itu saya adalah seorang historis materialis. Yah, jikalau saudara mendengar dari saya bahwa saya itu ya nasionalis, ya sosialis, ya muslimin maka untuk mengerti diri saya yang kompleks itu saudara-saudara, ingatlah kepada historis materialisme ini. Saya ini hasil daripada sejarah. Sebab saya nasionalis, betapa tidak saudara-saudara ! Saya patriot, betapa tidak ! Oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun dijajah orang, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun kehilangan kemerdekaan, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun dibelenggu, dihina, ditindas, oleh karena bangsa saya beratus-ratus tahun bahkan lebih lama, bangsa yang menyebut namanya sendiri tidak boleh. Bangsa yang demikian itu saudara-saudara, tidak boleh tidak tentu menghasilkan rasa patriotisme dan rasa nasionalisme (tepuk tangan lama). Dan saya lahir didalam bangsa yang demikian itu. Jadi nasionalisme saya boleh saudara artikan dan bisa saudara artikan sebagai hasil daripada proses sejarah dikalangan bangsa kita.

Sosialisme saya bagaimana ? (tawa). Ya, saya ini putera, anak daripada bangsa yang terutama sekali ekonomi dihisap, ditindas oleh imperialisme. Satu bangsa yang menurut perkataan Dr.Huender, ini beratus-ratus kali saya katakan telah menjadi satu bangsa ” natie van koelies en koelies onder de naties “nation of coolis and coolis among nations”, satu bangsa yang hidup daripada dua setengah sen satu orang satu hari, satu bangsa yang makan sekarang tidak tahu bagaimana besok akan makan, satu bangsa yang pakaiannya compang-camping, satu bangsa yang gubugnya doyong, satu bangsa yang anaknya selalu menangis oleh karena kelaparan, satu bangsa.. pendek kata yang hidup didalam kalangan kemiskinan dan kemelaratan. Bangsa yang demikian itu mesti mempunya cita-cita sosialisme. Dan saya adalah putera daripada bangsa yang demikian itu. Bangsa yang demikian itu gandrung pada satu masyaratkat yang adil dan makmur, gandrung pada satu masyarakat yang tiap-tiap orang bisa bahagia, gandrung pada satu masyarakat yang tiap-tiap orang mempunyai prumahan yang layak, gandrung kepada sandang dan pangan, gandrung kepada satu masyarakat adil dan makmur, toto-raharjo, bangsa yang demikian itu saudara-saudara, adalah semestinya, historis semestinya, menjadi satu bangsa yang bercita-citakan sosialis dan bangsa yang semacam kita ini saudara-saudara tadinya banyak sekali diluar Indonesia. Maka oleh karena itu sayapun tidak heran, bahwa didalam abad duapuluh dimana-mana timbul negara-negara Sosialis (tepuktangan). Wakil dari Polandia (yang dimaksudkan wakil Bulgaria - Red.) berkata bahwa jumlah Rakyat negara Sosialis itu 900 juta. Saya kira salah hitung saudara, bukan 900 juta, tetapi menurut perhitungan saya lebih dari 1000 juta manusia (tepuktangan lama). Malah seperti saya katakan, inilah phenomen daripada abad ke-20. Salah satu phenomen, phenomen yaitu, gejala, lebih dari gejala, satu pertandaan daripada abad ke-20. Pertandaan yang pertama, phenomen yang pertama yalah didalam abad ke-20 ini terjadi negara-negara merdeka di Asia dan Afrika. Phenomen yang kedua didalam abad ke 20 ini yalah terjadinya negara-negara Sosialis, kalau tidak salah jumlahnya sudah 15 buah sekarang ini dan rakyatnya telah lebih daripada 1000 juta. Phenomen ini terjadi sebagaimana tadi saya katakan saudara-saudara, oleh karena bukan saja di Indonesia Rakyatnya hidup didalam kemiskinan dan papa-sengsara, tetapinya, tetapi dinegeri-negeri lainpun demikian juga, sehingga akhirnya timbullah gerakan-gerakan yang sekarang melahirkan negara-negara sosialis 15 buah dengan Rakyat lebih daripada 1000 juta.

Saudara lantas bertanya kepada saya :–” Lha musliminnya itu dimana ? ” Ditinjau dari sudut kemasyarakatan, ditinjau dari histori, bangsa kita ini adalah didalam tingkat yang dinamakan tingkat agraris, atau lebih tepat yang sekarang sedang meninggalkan tingkat agraris tetapi beratus-ratus tahun, mungkin beribu-ribu tahun, berada di tingkat argraris, tingkat terutama sekali bercocok-tanam, dan historis, maka bangsa yang demikian itu tidak boleh tidak saudara adalah bangsa yang religius, bangsa yang percaya pada hal-hal yang gaib. Kaum buruh, saudara-saudara yang hidup didalam pabrik-pabrik, mengetahui bahwa tenunan dihasilkan oleh mesin ini. Kaum buruh di pabrik listrik dengan exact bisa mengetahui kalau generator berjalan, tidak boleh tidak mesti keluar aliran listrik. Pasti keluar kain daripada mesin tenun ini. Tapi seorang tani, si-petani saudara-saudara, ia tanamkan ia punya bibit padi, sesudah tanamkan ia punya bibit padi tinggal memohon, memohon agar supaya hujan turun menyuburkan tanaman padi ini, memohon kepada yang gaib agar supaya tidak kering terik sehingga padinya nanti akan mati; memohon kepada suatu zat yang dia tidak lihat agar supaya tanamannya ini menjadi subur dan berhasil nantinya. Ini ditinjau dari sudut masyarakat dan sudut historis. Bangsa yang demikian itu saudara-saudara tak bisa lain daripada satu bangsa yang religius, ditinjau dari sudut masyarakat dan histori itu. Meskipun ada juga peninjauan yang lebih dalam daripada itu. Saudara lepaskan saja, misalnya, dari masyarakat dan histori lantas saudara tinjau saja lebih dalam, kenapa Bung Karno percaya pada Tuhan ? Kanapa Bung Karno itu muslimin ? Hal ini bolehlah bicara lain waktu. Tetapi engkau saudara-saudaraku -maaf saya memakai perkataan “engkau” — sebagai kaum historis materialis tentu mengerti bahwa rasa nasionalisme, apalagi rasa sosialisme, rasa keigamaan adalah juga, saya katakan juga, hasil daripada keadaan historis dan masyarakat. Oleh karena itu rasa nasinalisme dan rasa keigamaan adalah hal-hal yang obyektif didalam masyarakat kita sekarang ini. Maka saya berkata, siapa diantara saudara-saudara, siapa yang ada diantara engkau - maaf perkataan “engkau ” karena kawan sama kawan (tawa semua) -siapa diantara saudara-saudara tidak mau menerima adanya nasionalisme di Indonesia, adanya rasa keigamaan di Indonresia, saya berkata saudara bukan historis materialis, saudara bukan Komunis ! Oleh karena rasa nasionalisme, rasa keigamaan adalah hal-hal yang obyektif, maka oleh karena itulah saya gembira bahwa PKI diwaktu yang akhir-akhir ini, atau beberapa tahun, berdiri diatas dasar ini, bahwa ini adalah kenyataan-kenyataan yang riil, obyektif riil, bahkan bahwa tenaga-tenaga ini bisa membangunkan juga alat-alat, tenaga-tenaga yang progresif revolusioner dan didalam fase revolusi nasional maka nasionalisme adalah satu faktor progresif-revolusioner. Bahwa ini rasa keigamaanpun didalam fase kita sekarang ini adalah satu faktor yang mungkin, yang bisa, bahkan yang pasti progresif-revolusioner. Dan bahwa tenaga-tenaga ini, faktor-faktor obyektif itu digabungkan didalam suatu gabungan besar, satu gelombang besar dalam perkataan saya, gabungan daripada segenap tenaga revolusioner, adanya didalam tubuh bangsa Indonesia. PKI sesuai dengan kami pemimpin-pemimpin yang lain berdiri diatas dasar itu. Oleh karena itu semboyan PKI yalah tetap persatuan nasional dan Sdr.Aidit tadi berkata, berulang-ulang berkata, kita tetap berdiri diatas usaha persatuan nasional (tepuktanghan). Memang hanya dengan persatuan nasional kita bisa menyelesaikan revolusi nasional kita ini, mencapai masyarakat adil dan makmur. Saya tadi berkata, didalam revolusi nasional meskipun pertentangan klas, perjuangan klas laten, selalu ada sepanjang sejarah, bahkan saya berkata vide Manifesto Komunis, kita tidak boleh meruncing-runcingkan pertentangan klas diantara bangsa kita sendiri. Meskipun kita berkata demikian itu tidak berarti kita tidak boleh membuat kaum buruh atau kaum tani sedar akan klasnya, itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust. (tepuktangan). Tidak, samasekali tidak ! Kita harus malahan membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust, sadar akan klasnya (tepuktangan). Oleh karena justru didalam penyelenggaraan masyarakat yang adil dan makmur kaum buruh dan kaum tanilah yang harus menjadi motor (tepuktangan). Kaum buruh dan kaum tani soko-guru, saudara-saudara, kaum buruh dan kaum tani didalam masyarakat adil dan makmur, kaum buruh dan kaum tani yang jumlahnya lebih daripada 90% daripada Rakyat Indonesia. Mereka ini soko-guru daripada masyarakat adil dan makmur. Mereka ini soko-goro masyarakat sosialis a la Indonesia. Maka oleh karena itu kita wajib membuat kaum buruh dan kaum tani klasse bewust. Supaya mereka itu merasa, tiap mereka punya tugas historis, supaya mereka itu sedar akan mereka punya historische taak, supaya mereka itu merasa bahwa mereka adalah, sebagai tadi saya katakan, soko-guru daripada penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur, dan soko-guru daripada masyarakat sosialisme Indonesia.

Saudara-saudara, maka jikalau saudara ingat uraian saya ini, saudara mengerti. Oo, Bung Karno itu sekalipun dia seorang ” campur-aduk “, –nasionalisme, sosialisme, muslimin, meskipun dia campur-aduk dari tiga sifat, Bung Karno selalu berdiri diatas dasar Gotong-Royong, diatas dasar ho lopis kiuntul baris (tepuk tangan lama). Dan sebagai tadi saya katakan saudara-saudara, DPA, Dewan Pertimbangan Agung, telah, alhamdullilah, saya bentuk atas dasar gotong-royong, Bapenas, Dewan Perancang nasional, telah saya bentuk atas dasar gotong-royong, insya Allah kataku tadi, MPR akan saya bentuk diatas dasar gotong-royong dan Kabinet Gotong-Royong tetap menjadi cita-cita saya (tepuktangan lama). Maka, maka, apa yang sudah kita capai sekarang ini, saudara-saudara sudah tentu belum memuaskan saya, tetapi kita berjalan terus dan kita terus berjalan, meskipun kaum imperialis geger. Itulah saya katakan, mari berjalan terus saudara-saudara menggalang kekuatan nasional menjadi gelombang maha hebat. Maka oleh karena itupun didalam pidato saya 17 Agustus 1959, saya berkata, insya Allah nanti akan dibentuk satu Front Nasional, (tepuk tangan) beda dengan Front Nasional Pembebasan Irian Barat yang sudah saya jewer telinganya (tawa riuh, termasuk Bung Karno), satu Front Nasional baru penggalang dari semua, segenap tenaga daripada bangsa Indonedsaia, penggalang daripada persatuan revolusioner Indonesia, penggalang dari ho lopis kuntul baris Indonesia (tepuk tangan lama dan terdengar satu yel : ” ho lopis kuntul baris “)

Dewan Pertimbangan Agung sekarang ini sudah mempunyai Panitia-Kecil, yang Panitia Kecil Dewan Pertimbangan Agung ini saya beri tugas : –coba pelajari soal pembentukan Front Nasional dan nanti kalau sudah mempelajarinya buatlah satu rumusan dan bawalah rumusan itu kepada Sudang Pleno Dewan Pertimbangan Agung. Maka akan saya bicarakan didalam sidang Pleno, didalam Sidang Pleno Dewan Pertimbangan Agung ini, rumusan atau isi rumusan daripada Panitia Kecil yang saya beri tugas untuk meninjau tentang pembentukan Front Nasional ini. Dan saudara-saudara, siapa yang saya jadikan ketua daripada Panitia Kecil Front Nasional ini ? Beliau duduk dihadapan saya dan memandang lurus kepada saya, Sdr. Arudji Kartawinata (tepuk tangan).

Jadi, kalau saudara mempunyai ide-ide tentang Front-Nasional, kasih pada Pak Arudji, cekokkan kepada Pak Arudji Kartawinata. Nanti Pak Arudji mengolahnya didalam Panitia Kecil, Pak Arudji membawanya kepada Dewan Pleno Dewan Pertimbangan Agung. Digodog didalam Sidang Pleno Dewan Pertimbangan Agung itu saudara-saudara, dan bulatlah nanti menjadi pendirian daripada Dewan Pertimbangan Agung dan insya Allah s.w.t; akan saya, sebagai Presiden/Panglima Tertinggi/Perdana Menteri, laksanakan apa yang diputuskan oleh Dewan Pertimbangan Agung itu (tepuktangan lama).

Saudara saudara, baik Dewan Pertimbangan Agung, maupun Depernas, maupun MPR yang akan datang, semuanya, seperti tadi saya katakan, berdiri diatas dasar gotong-royong, ho lopis kuntul baris. Tinggal saya minta kepada PKI, sebagaimana saya minta juga kepada PNI dan Nahdhatul Ulama dll, supaya didalam Dewan Pertimbangan Agung, supaya didalam Depernas, supaya didalam MPR, bekerjasama satu sama lainnya, se-erat-eratnya, bekerjasama diatas dasar dinamis revolusioner, menyelesaikan revolusi nasional kita, menentang imperialis habis-habisan. (tepuktangan).

Jaman perpecah-belahan saudara-saudara, jaman liberalisme sudah lalu, sejak 5 Juli kita telah kembali kepada UUD 45. Marilah kita sekarang dengan jiwa baru, dengan tenaga baru, dengan tekad baru, dengan roch baru, dengan elan baru menyelenggarakan persatuan nasuional yang ber-holopis kuntul baris-lah dapat menyelesaikan revolusi nasional dan mendirikan masyarakat yang adil dan makmur.

Sekian saudara-saurata, amanat saya kepada saudara-saudara. (tepuktangan riuh lama semua berdiri)


Selasa, 11 November 2008